Sunday, November 28, 2010

Chapter V -Entry #5-

Good day, readers...

Wah... Lama juga saya tidak menulis di jurnal ini, karena berbagai kesibukan yang menghadang (UTS, tugas - tugas dan sebagainya), dan akhirnya saya kembali mengisi entri yang seharusnya saya tulis...

Pada entri yang kelima ini, (saya harap anda tidak bosan - bosan membaca jurnal yang saya tulis...) saya akan membahas mengenai masalah persepsi dalam Komunikasi Interpersonal.

Persepsi adalah bagaimana kita menyadari sesuatu atau seseorang melalui indera kita.  Ada lima bagian dalam persepsi yang membentuk persepsi kita, diantaranya:

Stimulation atau stimulasi, yang dimaksud dengan stimulasi adalah bagaimana sebuah rangsangan diterima oleh indera kita... Seperti contohnya, ketika kita sedang mendengarkan musik, atau ketika kita sedang meilhat lukisan. (Jelas sekali persepsi tidak akan terjadi tanpa ada yang 'memicu' pemikiran kita...)

Yang kedua ialah Organization atau pengelompokan, biasanya yang dapat dengan mudah dikenali ialah pengelompokan berdasarkan kemiripan (Similarity) ataupun perbedaan (Contrast), dan dua hal yang saya sebutkan tadi adalah pengelompokan berdasarkan proximity (kemiripan). Selain proximity, juga ada pengelompokan berdasarkan schemata, schemata ialah struktur yang abstrak dan ada hanya dalam pemikiran masing - masing individu yang berdasarkan pengalaman ataupun pandangan tiap - tiap orang. Stereotype dan paradigma merupakan contoh dari schemata yang saya sebutkan. Dan yang terakhir, ada pengelompokan berdasarkan scripts, scripts yang dimaksud disini adalah bagaimana informasi yang diberikan sudah dirinci dan diurutkan sehingga menjadi suatu prosedur yang sistematis.

Tahap yang ketiga yang dilalui persepsi ialah Interpretation-Evaluation, interpretasi dan evaluasi adalah tahap dimana kita mencoba untuk mengartikan dan mengevaluasi kembali apa yang kita ketahui dari sesuatu tersebut.

Selanjutnya ialah Memory, tahap ini membuat kita menyaring informasi yang kita terima dari luar sebagaimana yang telah kita interpretasikan dari tahap yang ketiga.  Biasanya, hal - hal yang sesuai dengan pandangan kita pada sesuatu atau seseorang akan dengan mudah masuk ke memori kita, namun hal - hal yang tidak sesuai sering kita lupakan, karena kita menganggap hal tersebut tidak equivalent dengan premis kita semula. Namun, ada kalanya hal yang berkontradiksi dengan interpretasi kita semula mengakibatkan kita untuk memikirkan ulang mengenai pendapat kita, hal ini mengakibatkan informasi tersebut masuk ke bagian khusus dari memori kita.

Tahap terakhir yang berpengaruh pada persepsi ialah Recall, karena biasanya kita akan mengingat kembali hal - hal mengenai seseorang atau sesuatu. Dan yang paling mudah kita ingat ialah informasi yang konsisten atau sesuai dengan schema kita mulanya. Hla yang tidak sesuai dengan schema biasanya akn terlupakan dengan mudah.

Sekarang, saya akan menjelaskan mengenai Perceptual Process... Yang pertama adalah Self Fulfilling Prophecy, yaitu mengenai bagaimana kita percaya akan suatu hal dan kemudian hal tersebut menjadi benar karena kita sendiri. Hal ini disebut juga sebagai Pygmalion Effect. Kemudian ada juga mengenai Implisit Personality Theory seperti "Kita percaya orang tersebut memiliki sifat baik, maka segala yang baik akan kita kaitkan dengan orang itu." (Halo Effect) dan "Kita percaya orang tersebut memiliki sifat buruk, maka segala yang buruk akan kita kaitkan dengan orang itu." (Reverse Halo Effect / Horn Effect) Lalu, ada juga mengenai Perceptual Accentuation yaitu ketika kita diarahkan untuk melihat apa yang kita harapkan untuk terlihat. Hal ini mengarahkan anda untuk mengingat hal - hal baik (positive qualities). Hal ini disebut sebagai Pollyanna Effect. Selain beberapa hal diatas, juga ada Primacy - Recency, yaitu ketika memori kita yang terdahulu lebih mempengaruhi persepsi kita (Primacy) dan ketike memori kita yang paling beru mempengaruhi persepsi kita (Recency). Berikutnya adalah Consistency yaitu persepsi kita yang mengaharapkan orang lain yang kita sukai menyukai kita dan mengharapkan orang lain yang tidak kita sukai, tidak menyukai kita. Self-Serving Bias lebih menekankan kita ke arah memandang diri sendiri dan orang lain. Contohnya, ketika orang lain berbuat salah, kita memandang orang tersebut melakukannya karena dari dalam dirinya sendiri, tapi ketika kita berbuat salah, kita berpersepsi bahwa apa yang kita lakukan karena didorong oleh faktor luar...

Tampaknya dari penjelasan saya diatas, sangat terlihat bagaimana Persepsi sangat mudah sekali menyimpang dari yang seharusya. Ada beberapa cara untuk memperbaiki persepsi kita, yaitu menganalisa persepsi kita, mengecek ulang, dan mengurangi keragu-raguan dengan bertanya ulang, serta meningkatkan sensitivitas kita.


Sekian untuk entri saya yang kelima. Pikirkanlah yang seharusnya anda pikirkan, katakan yang seharusnya anda katakan, lakukan yang seharusnya anda lakukan, karena semuanya akan kembali kepada anda... Sampai jumpa di entri saya yang keenam... =)

Click Here To Visit Lentera!!!

1 comment:

  1. Ini adalah kesaksian kepada masyarakat umum. Saya Fadilah dari Surabaya, Indonesia dan saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan / mendidik masyarakat umum tentang mendapatkan pinjaman online.
    Satu-satunya perusahaan Anda bisa online pinjaman adalah Dubril Badan Kredit.
    Saya menghubungi Dubril Badan Kredit ketika saya membutuhkan pinjaman mendesak dan saya ditawari pinjaman pada tingkat bunga 2%.
    Hubungi Dubril Badan Kredit via email pada dubrilloanfirm@gmail.com.
    Jika Anda membutuhkan bantuan atau informasi tentang bagaimana untuk pergi tentang proses pinjaman, silahkan hubungi saya melalui bfadilah8@gmail.com email saya.
    Tuhan memberkati Anda.

    ReplyDelete